Tetangga Yang Baik

Beberapa waktu ini, kita lebih sering mendengar istilah Pancasila, toleransi, keberagaman, kebhinnekaan. Pun sebaliknya, kita juga disuguhi istilah macam intoleran ataupun radikal. Ada apa dengan keadaan kita sekarang?

Dibanding membahasnya dengan analisa yang njelimet, saya lebih suka melihatnya secara sederhana. Kalau saja kita bisa menjadi tetangga yang baik, rasanya ‘perseteruan’ ini tak perlu terjadi.

Saya masih ingat ketika dulu masih kuliah di Sulawesi Utara. Pernah suatu hari, sejak sebelum subuh speaker gereja di dekat kos saya sudah lantang bersuara. Nyanyian-nyanyian diputar. Tepat beberapa waktu sebelum adzan subuh, speaker gereja tersebut dimatikan. Beberapa saat kemudian gantilah adzan yang berkumandang dari masjid yang hanya berjarak sekitar 200 meteran.

Ketika saya hendak ke masjid dan melewati jalan depan gereja, rupanya sudah banyak orang berdiri di jalan depan gereja tersebut. Mereka berbaris rapi sambil membawa obor. Saya juga agak kikuk kala itu melewati kerumunan orang, tapi dari mereka pun mempersilahkan dan memberikan jalan. Saya jadi teringat dengan sepasang calon pengantin yang hendak menikah di katedral kala sedang berlangsung aksi damai 212 di Jakarta.

Toleransi. Saya kira sudah mendarah daging dalam praktik bertetangga kita sejak lama. Di pasar kita biasa jual beli tanpa memandang agama. Bahkan di kota asal saja Jombang, yang dikenal banyak pesantrennya, toko penjual kain yang terkenal juga lebih banyak dimiliki oleh saudara kita keturunan tionghoa.

Di Sulawesi Utara dulu, bahkan saya bersebelahan rumah, bertransaksi di pasar, bertemu di angkot, di jalan dengan orang-orang non muslim. Masjid dan Gereja juga berdiri tidak terlalu jauh.

Namun, rasanya juga tidak perlu sampai saya ikut kerja bakti di gereja mereka dengan alasan toleransi. Toh, mereka juga tidak kekurangan pemuda untuk melakukan itu. Bagi saya, toleransi adalah bertetangga yang baik. Yang tidak menggangu mereka dengan lisan dan perbuatan kita.

***

Kemudian, ketika dihadapkan pada persoalan seperti kemarin dan sekarang ini, haruskah kita menjadi “netral”?

Saya lebih cenderung pada istilah “obyektif” daripada “netral”. Karena netral bukanlah hal yang selamanya baik di setiap keadaan. Tetapi obyektif, berusaha melihat sesuatu secara keseluruhan dengan kacamata terbuka. Tidak menutup mata dari fakta-fakta yang ada. Melihat dan mencermati untuk kemudian menentukan langkah.

Maka, bagi yang muslim, ada satu doa yang hendaknya kita perbanyak, doa yang masyhur, terutama diajarkan ke kita waktu di TPQ dulu.

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه

“Allahumma arinal haqqan haqqaa, warzuqnat tibaa’ah. wa arinal baathilan baathilaa, warzuqnaj tinaabah.”

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar adalah benar dan anugerahi kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami yang batil adalah batil, dan anugerahi kami untuk menjauhinya.”

Advertisements

Kejutan

Langit sore terlihat menawan. Hamparan areal persawahan tampak hijau menyegarkan. Belum lagi angin sepoi-nya yang selalu membuat rindu akan kampung halaman. Ah,. aku tersenyum, kembali kulihat arloji di pergelangan tangan. Sepertinya sudah saatnya aku menelpon Ibu. Kemarin ayah bilang bahwa beliau tidak bisa menjemputku di stasiun. Aku sudah mengatakan akan naik ojek saja, toh hanya setengah jam dari stasiun ke rumah. Ayah bilang jangan. Akhirnya setelah diskusi alot, diputuskan bahwa Ibu-lah yang akan menjemputku.

“InsyaAllah setengah jam lagi sampai di stasiun”, kataku menyampaikan.

“Nanti Ibu tunggu di mesjid alun-alun aja ya. Belum sholat ashar juga soalnya.”, tambahku.

“Ngga usah, gpp nanti Ibu langsung ke stasiun aja. Wong deket aja kok.”, kata beliau. Aku memutuskan untuk tidak menolak, mengatakan iya. Tidak ada salahnya beliau menjemput langsung ke stasiun, setelahnya baru sama-sama ke masjid.

Setengah jam berlalu, speaker pengumuman kereta mengatakan akan segera tiba di stasiun yang aku tuju. Penumpang diminta bersiap. Sejurus kemudian, aku sudah berjalan menuju pintu keluar. Menggendong tas ransel besar, jaket dan tas plastik berisi oleh-oleh di tangan. Aku bersiap menemui Ibu.

-asal teman-teman tahu, momen pulang kampung selalu menjadi momen yang mengharukan bagi kami yang mungkin hanya bisa pulang beberapa bulan sekali-

Aku berjalan melewati pintu keluar, bergegas menuju bangku-bangku di depan stasiun yang biasanya ditempati mereka yang sedang menunggu. Aku melewati beberapa mobil yang terparkir. Samar seperti kulihat adik perempuanku. Iya, adik perempuanku. Ibu kemarin bilang bisa kok nanti aku naik motor ke stasiun. Itu berarti Ibu ke sini ngga (jadi) naik motor. Karena ayah sedang ke luar kota, jadi siapa yang mengantar Ibu ke sini. Aku mulai curiga.

Dan, terbukti. Kamu. Kamu yang kulihat tersenyum duduk di samping Ibu. Mataku bersitatap sejenak dengan Ibu. Tatapanku mengatakan “Ibu,. kok bisa sih?”. Alih-alih menanggapi, Ibu malah tertawa lebar. Kejutannya berhasil. Aku yang -demi melihatmu- lalu mengusap wajahku dengan jaket. Berusaha tidak terlihat terlalu berantakan. Juga berusaha merapikan rambut yang, ah sudahlah. It’s okay, aku baru beberapa waktu lalu bangun tidur. Aku rasa kamu tahu itu.

***

Aku sering senyum-senyum sendiri ketika mengingat ‘kejutan’ itu. Tahukah kamu, saat itu aku diam-diam juga bahagia mengetahui kalau kamu -bersama ibu- menyiapkan skenario kejutan kala itu. Aku bahagia sebab itu berarti ada kedekatan yang mulai dibangun antara kamu dengan Ibu. Aku tidak membayangkan bagaimana kamu merencanakannya, tapi aku bahagia karenanya. Terimakasih ya. 🙂

Dan kejutan serupa pun nampaknya kamu rencanakan siang ini. Kala tadi pagi aku lupa membawa baju olahraga buat sore nanti. Lalu menjelang siang hari, aku memintamu untuk mengirimkan baju itu lewat go send. Sekitar jam 11 barangnya sudah diambil pengantar. Setengah jam kemudian sudah sampai sini. Aku yang memang sedang melakukan ini itu hanya menyempatkan mengambil bungkusan bajunya dan langsung aku letakkan di meja kerja.

“Dicek dulu mas udah bener kan barangnya?”, katamu ketika aku bilang alhamdulillah udah sampe. Dan aku berpikir bahwa ga ada masalah kalau misal kamu ‘salah’mengambilkan -ngga ada kaus kakinya- atau apapun itu. Tapi ternyata aku kurang peka menangkap maksud ‘dicek dulu mas‘ yang bahkan kamu bilang sampe tiga kali. Ada sesuatu di bungkusan itu selain baju olahraga. Ya, bekal makanan yang aku baru tahu -sayangnya- setelah kembali dari istirahat siang. Maaf sayang ya,. akan tetap mas makan kok, tapi nanti sore ya. 🙂

Kejutan
Ianya sebuah tanda cinta
yang membuat aku makin cinta
meski tak seperti yang kamu rencanakan Adinda
Ia akan tetap jadi kisah terindah
dan sekali lagi
Terimakasih ya
maaf mas ngga peka XD

Makasih sayaang… 😀

Terimakasih Adinda

Matahari sudah agak meninggi, perlahan menampakkan teriknya pada setiap mereka yang beraktifitas di luar rumah. Dalam perjalanan ke sini tadi pun demikian. Jalanan yang ramai seolah menjadi saksi atas semua kesibukan mereka yang berlalu lalang. Kesibukan dengan tujuan masing-masing, perjuangan masing-masing.

Aku meneguk pelan teh hangat yang tersaji di hadapan, mengambil jeda sembari meyakinkan diri bahwa aku sudah berada di tahap ini. Bila kamu bertanya apakah aku nervous, grogi dan semacamnya. Tentu saja. Mungkin kamu tidak perlu bertanya karena sudah mengetahui itu sejak pertama kali aku membuka suara.

Baik sangka, mungkin itu yang menjadi modal buatku setelah mengucap bismillah. Dan aku bersyukur bahwa aku tidak harus memulainya dari awal. Terimakasih ya sudah berusaha mengenalkan aku pada beliau berdua.

Aku juga bersyukur bahwa pembicaraan ini tidak serumit yang aku khawatirkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir begitu saja. Sungguh, terimakasih untuk suasana yang nyaman ini. Terimakasih sudah bersikap begitu baik padaku. Aku merasa sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah kamu. Atau, barangkali orangtua kamu kasihan ya, berusaha begitu pengertian pada aku yang datang sendirian. 😀

Baik sangka, itu pula mungkin pegangan yang membuat orangtua kamu percaya. Percaya pada aku yang bukan siapa-siapa. Mm, aku saja masih terus berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Ya, bismillah. InsyaAllah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, pun dengan cara-cara yang diupayakan baik pula, hasilnya juga insyaAllah baik.

Aku juga menangkap sebuah empati yang begitu besar pada orangtua kamu. Empati seorang ayah pada laki-laki yang memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Empati yang berdasar ukhuwah, juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Jazakumullahu khairan, semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.

Membangun empati, itu pula yang harus aku lakukan. Menyadari sepenuhnya bahwa kamu adalah mutiara paling berharga di mata seorang ayah. Mutiara yang dijaga, yang dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta, pun senantiasa dihujani dengan doa-doa terindah. Maka sudah semestinya, bila Allah takdirkan kita untuk bersama, Allah karuniakan kamu kepadaku sebagai sebuah anugerah terindah sekaligus amanah, akulah yang harus berusaha menjagamu dengan sebaik-baiknya. Bismillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah.

***

Matahari belum sepenuhnya terbit bersinar. Semburat jingga masih tampak menyala dalam naungan awan-awan yang meneduhkan. Orang-orang sibuk berlalu lalang, berdatangan. Pengeras suara beberapa kali memberikan pengumuman.

Pulang, selalu mendatangkan haru kebahagiaan. Juga kesyukuran bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada mereka orang-orang tercinta, yang Allah datangkan mereka sebagai anugerah, pemberian terindah. Begitupun kita bagi mereka.

You don’t choose your family. They’re Allah’s gift to you, as you are to them
~Anonymous

Tahukah kamu, apa yang membuat para ayah tetap bersemangat dalam penat dan letih, memacu motor tua mereka membelah jalanan menuju rumah sepulang kerja?

Barangkali harapan. Bahwa ada yang menunggunya di sana. Bahwa kepulangannya pun memberi bahagia pada sosok-sosok yang ia cinta. Dan lelah, barangkali menguap begitu saja entah kemana, tatkala senyum-senyum itu menyambutnya.

Pulanglah. Karena bukan hanya kau yang merindu. Namun ada mereka yang juga merindukanmu

Apalagi ini kepulangan yang istimewa. Kepulangan yang penuh doa-doa, insyaAllah. Ucapan tahniah, barakallah, semoga lancar sampai acara juga setelahnya. Alhamdulillah.

Ya, kepulangan yang bukan hanya melepas rindu pada keluarga tercinta. Namun juga insyaAllah akan menambah satu anggota keluarga.

“Horee.. dapat mbak besar.”, seru si kecil kala aku dan ibu bercerita tentangmu. Aamin. Semoga lancar, semoga Allah karuniakan berkah selalu. Aku jadi bagian dari keluargamu, kamu pun jadi bagian dari keluargaku. Keluarga kita, insyaAllah 🙂

Sudah ada panggilan boarding, Mas berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar, insyaAllah kita ketemu dalam kesempatan yang jauh lebih baik, lebih berkah.

***

“Bismillah. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Aku mengulang-ulang kalimat itu. Ada debar yang tak bisa kujelaskan, ada haru penuh kesyukuran sekaligus juga kekhawatiran. Mungkin lebih tepatnya memohon kekuatan, bahwa selepas ini akan ada tanggungjawab yang tidak ringan.

Khutbah nikah dibacakan. Beberapa ayat al-Quran yang dibacakan, kurasakan memberi ketenangan juga keyakinan. Keyakinan bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas perkenaan-Nya. Bahwa aku, bahwa kita tidak akan dibiarkan sendiri oleh-Nya.

Dan saat itu pun, saat yang dinanti pun tiba. Ketika ayahmu -yang akan menjadi ayahku juga- mengulurkan tangannya, erat menggenggam tanganku. Dan beliau sangat tenang, lancar dan tegas, dengan suara beratnya mengucap “Ankahtuka…” hingga akhir kalimat. Dan tanpa jeda, segera aku ucap sebaris jawab. Suara yang terdengar bergetar. Petugas KUA, juga para saksi mengangguk pelan, “Sah..”. Alhamdulillah, alhamdulillah 🙂

Dan doa-doa pun dipanjatkan. Doa-doa memohon keberkahan untuk keluarga kita, untuk bersamanya kita.

Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair..

Barakallah…

Alhamdulillah..
Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmus shalihat..
Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat dan karunia-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Niat-niat baik kita dapat terlaksana, juga diberikan kemudahan oleh-Nya..
Alhamdulillah 🙂

Betapa banyak doa-doa yang tercurah pada kita. Doa dari lisan-lisan yang mulia. Dari ketulusan kedua orangtua kita, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, juga keluarga besar kita seluruhnya. Juga dari para tamu undangan, belum lagi dari saudara saudari kita fillah yang kita berharap lebih dari yang kita kira. Dinda, tiada lain yang bisa kita lakukan tentunya selain mengaminkannya. Aamiin, aamiin,. Ya Robbal Alamin. Tidak lupa juga rasa syukur dan terimakasih kita pada semuanya. “Jazakumullahu khairan, Semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.”

Jodoh adalah rizki. Yang terbaik adalah pilihan Allah. Engkau, dinda adalah pilihan-Nya untukku. Begitu pun aku yang telah dipilih-Nya untuk mendampingimu. Maka, rizki membutuhkan kesyukuran, juga penjagaan. Bahwa bersatunya kita semakin menguatkan langkah kita dalam kebaikan. Engkau, separuh agamaku, penjaga ketaatanku.

Barakallahu fiik,.
Barakallahu fiik. Uhibbuki fillah dinda.
“Titip dek eva ya nak.”
“Titip adekku ya dek.”
“Titip mbakku ya mas.”
“Titip ponakanku ya mas.”

Ini keluarga kita. Kita yang bangun, kita yang jaga, kita yang rawat. Doakan mas bisa jadi imam yang baik buat adinda ya. Apapun yang terjadi setelah ini, kita akan hadapi bersama. Hingga surga, hingga surga, insyaAllah. 🙂

Alhamdulillah 🙂

Mensyukurimu

Aku masih teringat di awal masa kuliah dulu ayah sering berpesan, “Kamu di situ sendiri, semuanya diatur sendiri. Kamu mau jadi apapun, ya itu kamu yang tentukan. Ayah sama ibu di sini hanya bisa mendoakan, semoga kamu baik-baik di sana, selalu dijaga.”

Tahukah kamu, mendapatkan pesan seperti itu rasanya membuat tingkat kedewasaan ini naik selevel lebih tinggi. Menyadari bahwa ada yang begitu menyayangi, ada yang begitu mengharapkan diri ini untuk berhasil. Maka satu yang kemudian menjadi tekad dalam diri, bahwa aku tidak boleh mengecewakan mereka. Bahwa aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Mendapatkan kepercayaan, adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Bahwa ada sesal yang lebih ketika aku kembali terjatuh dalam kesalahan. Juga ada semangat yang berlipat buatku untuk meraih hal-hal yang membanggakan.

Tiba-tiba, perasaan itu kembali hadir. Ketika sebelumnya aku sempat mengatakan bahwa masih ada kekhawatiran yang terkadang muncul. Kekhawatiran untuk mengemban tanggungjawab yang besar. Dan kamu, kemudian dengan tenang menyampaikan bahwa kita adalah dua orang yang sama-sama dewasa. Mengerti apa yang harus dilakukan, juga apa yang seharusnya tidak dilakukan. Bahwa aku bisa berusaha dengan sebaik-baiknya.

Manusia, Makhluk Dinamis

Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana kiranya bisa kita membenci perbuatan seseorang, namun tetap mencintai orangnya. Hingga aku tersadar, bahwa hal tersebut telah lama aku lakukan pada seseorang. Terkadang aku begitu membenci apa yang dilakukannya, namun di saat yang sama aku juga begitu menyayanginya, berharap yang lebih baik untuknya, sangat berharap agar ia bisa berubah. Ya, seseorang itu adalah diriku sendiri.

Mengharapkan kebaikan, barangkali itulah definisi cinta. Seorang ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Seorang ayah, pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya, pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka.

Tentang judul di atas, bahwa manusia adalah makhluk dinamis, senantiasa berubah. Tersebab memang dari asalnya, hati kita senantiasa berbolak-balik. Ditambah lagi dengan beragam aktivitas yang kita lakukan, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita menghabiskan banyak waktu, buku-buku apa yang kita baca, bagaimana kita membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap harinya.

Tidak ada perubahan besar bila tidak diawali dari yang kecil. Ingin jadi lebih baik, maka mari kita ubah sedikit demi sedikit keseharian kita untuk jadi lebih positif. Semangat. 😀

Menyadari bahwa kita adalah makhluk dinamis menjaga kita agar tidak putus asa ketika melakukan kesalahan. Bahwa hal yang baik, kesempatan untuk melakukan perbaikan itu selalu terbuka selama nafas kita masih ada. Pun demikian ketika sudah melakukan kebaikan, kita tidak lantas berpuas diri, namun bersyukur bahwa Allah memampukan kita untuk melakukannya. Juga berdoa, agar selalu dijaga dalam kebaikan, diistiqamahkan.

Selain itu, juga untuk menjaga sikap kita pada sesama. Keluarga, teman, sahabat, dan semuanya. Senantiasa mengharapkan kebaikan untuk mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka. Ikut bahagia ketika berkah dan kebaikan menghampiri, juga ikut merasa hal yang sama ketika mereka dirundung musibah.

Tidak ada manusia yang sempurna. Maka semoga dengan mensyukuri kebaikan-kebaikan yang sudah ada pada mereka, Allah karuniakan nikmat berupa berkah dan kebaikan untuk kita semua. Pada keluarga, teman, juga masyarakat kita.

Termasuk teman hidup yaa 😀

Bentar-bentar, kok termasuk teman hidup? Iya benar, tidak ada yang sempurna. Maka perlu bagi kita untuk menentukan prioritas. Mana hal-hal yang benar-benar penting dan utama yang harus ada, juga mana hal-hal yang harus bisa kita terima untuk kemudian kita bisa belajar sama-sama. Kok bahasannya jadi kesini ya, ya gitulah maksudnya :mrgreen:

Nih saya kasih lagi wejangan buat kita menentukan prioritas.

Kalau kata Ustadz Salim A Fillah dulu, lihat bagaimana hubungannya dengan empat hal. Hubungan dengan Allah, dengan kedua orangtua, dengan teman-temannya, dan dengan anak kecil. Ada juga yang menambahkan, bagaimana amanahnya terhadap muamalah yang berhubungan dengan harta.

Sekian, terimakasih sudah membaca. Tentang makhluk dinamis, semoga kita selalu bisa berusaha untuk jadi lebih baik. 🙂

Bersaudara Meski Tak Sewarna

Saya masih ingat dulu ketika SMP, saat itu kami akan melakukan praktik sholat yang merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran agama islam. Saat itu ketika berbincang dengan salah seorang teman, dia mengatakan kalau ada yang berbeda dari tata cara sholat yang kami lakukan. Dia mencontohkan doa iftitah, lalu saya minta dia membacakan doa iftitah ‘versi’ dia yang ternyata memang berbeda dan sama sekali belum saya dengar sebelumnya.

Teman saya ini memang lulusan MI Muhammadiyah, sedangkan saya secara lingkungan, baik ketika belajar di guru ngaji di masjid maupun di sekolah sebelumnya, adalah Nahdlatul Ulama alias NU. Teman saya waktu itu pun praktik sholat dengan melafalkan bacaan-bacaan sholat sebagaimana yang dia pelajari. Guru agama kami pun tidak mempermasalahkannya. Saat itu saya hanya berpikir, ya memang saya belajarnya begini, dia belajarnya begitu, makanya beda. Yang jelas, baik guru saya maupun guru dia pasti punya pegangan dan dasar tentang apa yang diajarkan ini.

Tahun demi tahun pun berlalu, hingga hari ini ternyata dari sedikit yang saya tahu, memang agama islam ini begitu luas. Beberapa kali ketika membaca di kolom konsultasi syariah di rumah fiqih indonesia, ternyata memang hampir di semua hal yang bersifat cabang (bukan pokok) ada pendapat yang berbeda di kalangan ulama. Dan para ulama pun sepakat bahwa perbedaan-perbedaan itu adalah hal yang diperbolehkan.

Adalah Umar bin Abdul Aziz yang diceritakan begitu gembira ketika mendapati para sahabat Nabi berlainan pendapat tentang sebuah perkara. Alasannya? karena dengan demikian, umat memiliki keluasan pilihan, juga kemudahan yang mungkin disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Alhamdulillah, betapa islam adalah agama yang mudah.

Satu hal yang saya garis bawahi tadi, bahwa berbeda bukan berarti salah. Sederhana, karena kita belajarnya begini, dan saudara kita belajarnya begitu. Maka kita amalkan yang kita pelajari, saudara kita pun mengamalkan yang dipelajarinya. InsyaAllah masing-masing Ustadz yang mengajarkan punya dasar dan pegangan. Maka sebagai muslim, pun wajib bagi kita untuk terus belajar dan belajar. Karena terlalu banyak hal yang kita tidak tahu, yang itu penting dan kita butuhkan untuk bekal kehidupan kita.

Ada perbedaan yang hanya memberi warna dan bukan sebab terpecah. Maka sebagai orang yang jauh dari kata faqih, mari kita tahan lisan kita dari mengomentari apa yang bukan menjadi keahlian kita. Karena apa yang kita tahu barangkali hanya dari satu sisi, satu rujukan sedang saudara kita memiliki rujukan yang lain. Jangan mudah mencap salah, mengatakan bid’ah karena bisa jadi ada begitu banyak pembahasan ulama yang mungkin memang tidak satu kata.

Berbeda itu bukan cela, namun berpecah tentu musibah. Ketika kita dapati hari ini, lisan kita terlalu ringan untuk berkomentar, bahkan mendebat dan saling menyalahkan. Padahal faqih bukan, ahli ilmu apalagi, hafal satu hadits sanad beserta matannya dalam bahasa arab saja tidak. Mari menyadari posisi, sebagai penuntut ilmu maka bersikaplah sebagai penuntut ilmu, bukan sebagai ulama. Arahkan semangat untuk beragama itu dengan belajar sebanyak-banyaknya. Bukan mendebat dan menyalahkan dengan selantang-lantangnya.

Menjaga ukhuwah, hal yang utama. Janganlah kita salah prioritas, meributkan hal-hal yang remeh temeh namun justru mengabaikan hal yang begitu penting dan utama, yakni persatuan umat. Betapa kita rasakan umat ini yang kian terkotak, kian tersekat. Semoga Allah lembutkan hati-hati kita untuk menjadi hamba-Nya yang bersaudara. Yang saling menjaga dan mendoakan, saling menasihati dalam kebaikan.

Di sini pun saya rasakan hal yang sama, ketika menghadiri pengajian, tabligh akbar misalnya. Ketika saya dapati secara penampilan, saudara-saudara saya di sini mungkin agak berbeda. Yang laki-laki kebanyakan mengenakan celana di atas mata kaki, begitu juga dengan istri-istri mereka, kebanyakan berpakaian warna gelap atau juga mengenakan cadar. Berbeda? iya, tapi bukan masalah. Begitulah yang mereka pelajari, yang mereka yakini keutamaannya. Dan kita pun tahu, bahwa yang sunnah akan tetap menjadi sunnah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tetap terikat sebagai saudara, saling menghormati, saling mendoakan dan mengharapkan kebaikan bagi saudara kita. Karena bersaudara tak mesti sewarna.

Semoga Allah persatukan hati-hati kaum muslimin. Semoga Allah jaga kaum muslimin. Semoga Allah balas makar mereka yang berusaha memecah belah kaum muslimin. Semoga Allah balas mereka yang berniat jahat pada kaum muslimin.

Terakhir, izinkan saya menuliskan kembali hal yang semoga menjadi pengingat bagi kita, khususnya saya sendiri. Bahwa mungkin kita memiliki peran yang berbeda, juga fokus yang berbeda. Namun bukankah itu berarti kita dapat saling melengkapi?

belajar memahami
belajar rukun
belajar melihat secara utuh
bahwa kita adalah umat yang satu
bahwa mukmin itu bersaudara
bahkan ibarat satu tubuh
adapun bila ada peran yang berbeda, barangkali memang disanalah Allah lebih memberi kemampuan untuk berkhidmah

Ucapkan Alhamdulillah

Alhamdulillah..
Menjadi kritis dan bersemangat untuk melakukan perbaikan adalah sebuah sikap hidup yang baik sekali. Bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam yang begitu kritis pada ayahnya, juga masyarakatnya. Dan kitapun tahu, bagaimana pula mulianya akhlak beliau pada sang ayah, meski beliau sungguh sangat mengkritisinya.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur dengan segala karunia dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita, keluarga juga lingkungan masyarakat kita. Dengan bersyukurnya kita, semoga Allah menambah kebaikan dan keberkahan di setiap lini kehidupan kita, insyaAllah 🙂

Tentang jilbab misalnya. Saya masih ingat sekali waktu saya masih SD, kemudian SMP, jilbab atau kerudung belum bertebaran seperti sekarang. Padahal itu bukan puluhan tahun yang lalu, baru kemaren rasanya, sekitar 10 tahun ke belakang. Saya dulu sekolah di SD negeri, SMP juga negeri. Ketika SD, tidak ada siswi yang pake jilbab seingat saya. Paling ketika kegiatan keagamaan, atau ketika pondok ramadhan dan semisalnya. SMP pun tidak jauh beda, di kelas 1 misalnya, saya dulu sekelas 40 orang, hampir separuhnya perempuan dan yang memakai jilbab hanya seorang saja. Saya dulu bahkan ketika SMP masih memakai celana pendek. Iya, serius. 😀

Namun alhamdulillah, di generasi adik saya sudah ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Alhamdulillah 🙂 Ketika SD, adik saya yang laki-laki sudah mengenakan celana panjang. Adik saya yang perempuan juga gitu, bahkan sejak TK sudah diajarkan memakai pakaian yang sopan, seragam TK-nya juga sudah pake jilbab. Alhamdulillah 🙂

Kita berdoa semoga negara kita ini semakin hari semakin baik. Baik masyarakatnya, baik pemimpinnya, juga baik pegawai-pegawai yang bertugas melayani masyarakatnya. Indonesia memang tidak sempurna, namun sungguh kita harus mensyukurinya. Adzan-adzan yang menggema berkumandang dimana-mana sebagai panggilan sholat, masjid-masjid yang bertebaran dimana-mana. Belum lagi alhamdulillah kita dikaruniai negeri yang damai, aman dan juga memberikan kebebasan untuk beribadah dengan sebaik-baiknya.

Di kantor-kantor pemerintahan pun juga demikian. Rapat yang dihentikan dan ditunda kala adzan berkumandang insyaAllah sudah banyak diterapkan. Alhamdulillah, alhamdulillahi alladzii bini’matihi tatimmus shaalihaat. 🙂

Ketika idul fitri kemarin pun demikian. Lebaran yang identik dengan baju baru juga diwarnai dengan busana-busana muslimah yang sopan dan terlihat adem. Dari mulai anak-anak kecil pun sudah dipakaikan baju-baju panjang lengkap dengan kerudungnya. InsyaAllah semangat untuk belajar lebih baik lagi semakin meningkat di masyarakat kita. Alhamdulillah 🙂

Kita bersyukur namun juga tetap berusaha terus belajar dan belajar lagi. Bahwa banyak perkara dalam agama kita ini yang kita belum tahu. Semoga kita selalu diberikan hidayah dan istiqomah untuk bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga juga negeri kita Indonesia senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan sehingga menjadi negeri yang penuh dengan kebaikan. Aamiin 🙂